It’s just one of my way to express my self

Ibu

Suatu ketika, selesai kuliah saya pulang naik kereta. Siang itu begitu
panas. Untunglah saat itu keadaannya sepi, dan saya mendapat bangku di
ujung gerbong belakang. Jam menunjukkan pukul 14 lewat. Di depan saya,
ada seorang ibu yang berjualan pulpen kayu. Entah, apakah itu bisa di
bilang pulpen, sebab, tampaknya memang demikian, dan itulah yang
dijajakannya. Ibu itu berpakaian sederhana, tapi bersih. Saya ingat,
dia memakai baju krem berkerah dengan celana panjang warna hitam.

Tak berapa lama, ada seorang anak penjual koran yang datang. Anak itu
masih memakai seragam sekolah putih-merah. Di tangannya masih banyak
koran yang belum laku terjual. Peluhnya memenuhi kening. Agaknya anak
itu lelah. Saya dengar ia berkata pada ibu tadi, “Bu, ..aku capek.”

Ah pemandangan yang mempesonakan. Si ibu, kemudian mengambil ujung baju
kemejanya, dan lalu membasuh kening anaknya. Ujung baju itu di pakainya
untuk membasuh peluh di kening anaknya. Di usapnya pelan-pelan. Sayup
saya mendengar, “Ibu juga capek.” Peluh di kening anak nya mulai
hilang. Tapi, agaknya kini kantuk yang datang. Si anak lalu mulai
bergayut dengan manja di badan ibunya. Si ibu, sambil menaruh barang
dagangannya, mulai kembali mengusap kepala anaknya. Saya terus
memandangnya. Rupanya Ibu itu tahu kalau diperhatikan. “Baru pulang
sekolah.” katanya kepada saya.

***

Ah, saya terharu. Saya lalu teringat kepada Ibu saya. Dulu, saya,
biasanya berlaku demikian saat pulang sekolah. Seakan, saya sedang
mengenang kembali memori-memori lalu yang pernah ada. Ada
perasaan-perasaan haru yang menyelinap di dada saat itu. Saya terus
perhatikan keduanya. Saya kembali haru. Saya kembali teringat kepada
Ibu saya.

Ibu saya orang hebat. Entahlah, mungkin bagi orang lain, ia cuma wanita
biasa. Tapi bagi saya, dia adalah wanita yang hebat. Saya ingat dulu,
Ibu berjuang sendirian mengasuh anak-anaknya. Ketika itu, kami harus
berpindah-pindah rumah. Memang, kami bukan orang yang berkecukupan,
sehingga harus sering berganti tempat tinggal.

Saya terkenang ketika harus berjalan jauh bersama Ibu menuju rumah yang
baru. Kami membawa banyak sekali barang bawaan. Kakak perempuan saya,
membawa dua tas plastik berisi pakaian. Sedang Ibu, menggendong adik
yang sedang sakit. Dan saya sendiri, sebagai anak laki-laki, harus
membawa dua tas, ditambah botol air minum yang dikalungkan di leher.
Buat anak berumur 6 tahun, tas itu cukup besar untuk dibawa.

Kami berjalan beriringan. Kala itu, kami harus melewati pasar yang
sesak. Sedangkan, udara sangat terik. Sementara, disana banyak sekali
orang yang berdagang makanan dan minuman. Saya ingin sekali berhenti,
dan bisa membeli. Tapi, Ibu tak punya cukup uang untuk kami berempat.
Saya hanya menahan keinginan itu di dalam hati. Kami, memang tak pernah
diajarkan Ibu menjadi anak yang cengeng. Ibu selalu mengajarkan kami
untuk tak pernah menyerah. Ibu selalu mengajarkan kami untuk tak mudah
menangis. Ibu saat itu hanya berkata, “sebentar lagi sampai.” Ibu
memang tak membelikan saya apapun saat itu. Kami terus berjalan, tapi
saya bangga akan Ibu. Ia wanita yang sangat sabar.

Akhirnya kami sampai di tempat. Karena kelelahan, saya langsung
tertidur. Saya mungkin ingat, saat itu pula ibu mengusap kening saya
yang kelelahan dengan ujung selendang yang dipakainya untuk menggendong
adik. Subhanallah, begitu besar kasihnya kepada saya.

Teman, mungkin belum banyak dari kita yang begitu peduli dengan Ibu.
Kita mungkin kerap membantah, menolak, mengindahkan, dan bahkan memaki
Ibu kita sendiri. Mungkin kita sering juga membuat beliau mengurai
airmata. Padahal, bukankah rasul Allah telah mengingatkan, surga ada di
telapak kaki Ibu?

Cobalah, mulai kenang Ibu kita. Pandangi setiap kerut wajah nya, setiap
kersik-kersik rona matanya, setiap ujung-ujung putih rambutnya.
Pandangi raut wajahnya, ingat lekat-lekat badan tuanya. Peganglah
punggung tangannya, rasakan urat-urat yang ada di atasnya. Susuri
jari-jemarinya, genggam erat tangannya. Dan ciumlah. Cium dengan
sepenuh hati, dengan sepenuh rasa dan jiwa ini. Rasakan kehangatannya.
Rasakan dengan segenap cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: