It’s just one of my way to express my self

Etika Menasehati

Etika Memberi Nasihat

  • Ikhlas, tidak mengharap apapun di balik nasihat kita selain keridhaan Allah dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasihat itu bukan untuk tujuan mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasihat. Bukan juga untuk tujuan riya (pamer) dan sombong. Karena riya dan sombong bukan atribut seorang Muslim.

    “Dan janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang keluar dari negeri-negeri mereka dengan sombong dan pamer kepada manusia, serta menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi (ilmu Nya) tentang mereka; dan Allah tidak akan menyiksa, selama mereka masih suka meminta ampun.” (Surat 8, 47)  

 

  • Menasihati dengan cara yang baik dan tutur kata yang lembut serta mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasihati dan mau menerimanya (metode yang baik).

    “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik” (An-Nahl: 125) 
 

3. Pemberi nasihat hendaknya menjadi teladan bagi orang yang akan dinasihati, agar bukan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedang ia lupa terhadap diri sendiri.  

Allah berfirman tentang Nabi Syu’aib, “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang” (Hud: 88) 
 

4. Hendaknya orang yang dinasihati itu disaat sendirian, karena yang demikian lebih mudah diterima. Karena siapa saja yang menasihati saudaranya ditengah orang banyak, maka kemungkinan ia akan mencemarkannya, dan barangsiapa menasihatinya dengan sembunyi maka ia telah menghiasinya.  

    Imam Syafi’i: “Berilah aku nasihat secara berduaan, dan jauhkan aku dari nasihatmu ditengah orang banyak: karena nasihat di tengah orang banyak itu mengandung makna celaan yang aku tidak suka mendengarnya.”  

    HR Muslim dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda: “Orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (Riyadhus Shalihin)

5. Hendaknya pemberi nasihat mengerti betul dengan apa yang ia nasihatkan, dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri (sehingga tidak mengarah ke debat kusir), dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah diterima. Nasihat yang didasari ilmu akan menghindarkan dari debat kusir/ berbantah-bantahan yang didasari emosi dan hanya akan meruntuhkan kesatuan umat.  

“Taat dan patuhlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, maka kamu nanti menemui kegagalan dan hilang kekuatanmu, dan tabahlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (tabah)” (Al Anfal :46)  

 
6. Hendaknya pemberi nasihat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya.  

    Lukman berkata pada anaknya, “Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (Lukman:17).  

    Sabar atas kemungkinan yang terjadi karena memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar. 
 

7. Hendaknya orang yang memberi nasihat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasihatinya. Pemberi nasihat hendaknya mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasihati itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: